Meminta Maaf Duluan Takkan Pernah Merendahkan Harga Diri

Posted by Ganas003 on Juli 03, 2019 in
Meminta Maaf Duluan Takkan Pernah Merendahkan Harga Diri

Pernahkah kalian mempunyai sahabat yang saling mengingatkan dalam kebaikan? Sahabat yang menginspirasiku untuk menjadi eksklusif yang lebih pemaaf ini sungguh masih kuingat hingga sekarang. Aku, Kanaya dan temanku Ruma menjalin persahabatan ketika kami sama-sama bekerja di sebuah perusahaan. Layaknya lem dan perangko, kami begitu dekat.

 Dia menjadi orang pertama yang sering menjadi daerah bertanyaku ketika saya tak paham akan sesuatu. Aku sering bertanya-tanya, apakah yang menciptakan kami menjadi dekat? Mungkin alasannya kami berasal dari kota yang sama (Wonogiri) atau mungkin kami lahir pada tahun yang sama atau daerah kerja kami yang hanya bersebelahan. Entahlah, yang niscaya saya bersyukur memilikinya.
Tapi, persahabatan memang selalu ada ujiannya. Suatu ketika, manajer menginstruksikan sahabatku tersebut untuk pindah ke ruangan yang letaknya jauh dariku. Hal itu seketika membuatku duka alasannya harus berpisah walaupun bergotong-royong masih di perusahaan yang sama. Tapi saya takut ia memilki sahabat gres dan akan melupakanku. 

Mungkin itu hanya perasaanku. Sebenarnya ia masih memperlakukanku dengan sangat baik menyerupai sebelumnya, tapi keegoisanku yang merasa ia mengabaikanku menyerupai menutup mata hatiku.

Beberapa ahad sehabis kepindahannya, mungkin temanku justru merasa ada yang berbeda dariku. Aku menjadi lebih membisu ketika ia menemuiku. Dia masih sering menanyaiku wacana sudah makan atau belum. Dia yang selalu menyapaku duluan. Dia masih sering menghampiriku.Tapi sikapku menyerupai orang yang hirau tak acuh. 

Aku tahu saya yang salah. Hal-hal yang saya khawatirkan bergotong-royong berasal dari diriku sendiri. Perubahan yang saya takutkan bergotong-royong itu berasal dari diriku sendiri. Bukan temanku yang berubah, tapi justru aku.
Perasaan tak nyaman selalu ada di pikiranku. Bahkan ketika saya tahu bahwa saya salah, saya terlalu gengsi untuk meminta maaf dan memulai pembicaraan. Setiap malam sejak kepindahannya, saya terus kepikiran akan apa yang akan terjadi esok hari. Aku sungguh tak dapat tidur nyenyak. Hingga suatu hari, temanku Ruma tersebut mengirimiku pesan chat. 

Dia bilang bahwa ia meminta maaf. Mungkin ia berbuat sesuatu yang salah hingga membuatku menyerupai ini. Dia tanya padaku, bergotong-royong apa masalahnya. Dia ingin memperbaikinya. Dia bilang ia selalu kepikiran tentangku. Dia menjadi malas berangkat kerja alasannya tak tau letak kesalahannya di mana.

Saat membacanya, air mataku menetes begitu cepat. Aku yang salah tapi ia yang meminta maaf. Seketika k balas pesan chat-nya dengan kata-kata yang sama menyerupai yang ia lakukan bahwa saya yang salah dan saya minta maaf. 

Aku ingin mengakhiri konflik batinku dengan diri sendiri. Aku tak mau kehilangan sahabat baik sepertinya. Esoknya, menyerupai tak terjadi apa-apa, kami memulai pembicaraan dengan canggung hingga lama-kelamaan suasana mencair dan kami bersahabat menyerupai sebelumnya.

Sahabatku sungguh baik dan pemaaf. Dia mengajarkanku bahwa meminta maaf duluan tak akan pernah merendahkan harga diri. Menjadi eksklusif yang pemaaf justru akan mengatakan betapa kayanya hatimu. Memaafkan akan melegakan hati dan melepaskan beban. Sahabatku, Ruma, terima kasih ya. Maafkan keegoisanku. 

Dan juga, terima kasih telah menjadi salah satu inspirasiku dalam memaafkan. Aku akan selalu mengingatnya.

Sumber: fimela